Pengemis

Hari itu, saat makan malam bareng anak dan istriku di meja oval dengan duduk lesehan. Istriku bercerita tentang liputan televisi tentang pengemis yang punya kompleks perumahan sendiri lengkap dengan satuan pengamannya, rumah mereka bisa masuk dalam kategori bagus kalau tidak bisa dibilang elite atau mewah. Penghasilan perbulannya rata-rata mencapai 4 juta rupiah bahkan lebih.

Kemudian ia juga bercerita bahwa tadi ada seorang ibu separuh baya yang membawa karung beras mengetuk pintu rumah dan meminta sumbangan ala kadarnya untuk dimakan sendiri olehnya dan keluarganya. Pada awalnya menurut aku dan istriku hal seperti ini lebih baik dari pada meminta sumbangan mengatas-namakan lembaga (biasanya panti asuhan yatim miskin/masjid/ponpes dll) tapi kami ragu apakah lembaga tersebut nyata atau fiktif dan apakah sumbangan yang diberikan sampai kepada yang berhak menerimanya.

Si ibu tadi meminta diberi sumbangan ala kadarnya boleh berupa beras ataupun uang yang akan digunakan sendiri oleh keluarganya, tinimbang orang yang meminta sumbangan atas nama lembaga yang biasanya menyodorkan sebentuk daftar penyumbang dengan nominal tertentu yang membuat kita merasa risih kalau menyumbang lebih kecil dari pada nilai minimal yang tertera di sana. Lembaganya pun biasanya berada di daerah yang jauh dari sekitaran rumah kami. Biasanya lagi yang meminta sumbangan terkesan agak memaksa dan menunjukkan wajah masam kalau tidak diberi.

Itu pada awalnya tapi begitu laporan istriku bahwa hal seperti itu seoral menjadi tren sekarang, karena selain rumah kami pernah didatangi oleh ‘ibu-ibu’ ini, saat kami sowan ke rumah orang tua juga mendapati hal yang sama. Bahkan di hari yang sama sampai dua kali (dengan selang waktu beberapa jama saja) didatangi oleh ibu-ibu paruh baya yang membawa kantong beras dan meminta sumbangan ala kadarnya, orang yang meminta adalah orang yang berbeda. Apakah ini modus baru pengemis?

Akan bagaimana jadinya rasa kasihan, iba, prihatin, empati orang yang pada awalnya dengan ikhlas tanpa pamrih, tanpa syak wasangak, tanpa niat menyakiti hati kalau mendapati kondisi ini atau kondisi seperti yang dilaporkan salah satu stasiun televisi di awal tulisan ini tadi? Bagaimana semestinya kita bersikap dan mensikapi ini?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s