Sekolah tanpa Kertas

Satu laptop untuk satu siswa. Proses belajar-mengajar menjadi lebih hidup di sekolah berteknologi digital.
Majalah TEMPO edisi 12/XXXVIII 11 Mei 2009

BAYANGKAN, bersekolah tanpa membawa buku tulis, pensil, pulpen, dan bahkan buku pelajaran. Yang ada di dalam tas setiap anak hanya sebuah laptop. Di Sekolah Internasional Sinarmas World Academy, Bumi Serpong Damai, Tangerang, ini bukanlah mimpi.

Sekolah di atas lahan 5,2 hektare ini memadukan teknologi informasi digital paling mutakhir dengan dunia pendidikan sejak tahun lalu. Memang, setelah sembilan bulan mencoba, hingga kini buku dan pensil masih tetap digunakan. Tapi laptop telah menjadi bagian yang tak terpisahkan di sekolah itu. ”Laptop dan Internet di sini seperti pulpen, pensil, atau buku. Bagi kami semua itu adalah alat pendukung proses belajar-mengajar,” kata John Mc- Bryde, Chief Executive Officer Sinarmas World Academy, dua pekan lalu.

Tren menjadikan komputer sebagai alat belajar dan mengajar muncul mulai awal 2000-an. Gejala ini meningkat empat tahun lalu. Direktur pemasaran produsen peranti lunak pendidikan Pesona Edukasi, Hary Sudiyono Candra, mengatakan bahwa dalam empat tahun terakhir permintaan terhadap peranti lunak pendidikan terus meningkat. ”Sepertinya masyarakat mulai sadar bahwa alat bantu teknologi semacam ini dibutuhkan,” ujarnya. ”Dunia memang sedang demam e-learning.”

Sekitar 3.000 sekolah di seluruh Indonesia kini memakai produk Pesona Edukasi. Sekolah itu tidak cuma yang berada di Jakarta, tapi hingga Situbondo, Jawa Timur. Peranti lunak perusahaan itu juga sudah dipakai di sekolah di 23 negara, termasuk Singapura, Amerika Serikat, dan Australia.

Buku sekolah yang bisa dibaca di komputer juga sudah bertebaran. Departemen Pendidikan Nasional, misalnya, sudah sejak Agustus 2008 melun-curkan buku sekolah elektronik yang bisa diunduh di situs Internet departemen ini. Tampilan buku elektronik ini sengaja dibuat persis seperti versi cetak, sehingga rasa membaca buku masih ada.

Banyak manfaat teknologi digital sebagai alat bantu belajar dan mengajar. Misalnya, dengan bantuan komputer banyak percobaan yang tak mungkin dilakukan di kelas bisa disimulasikan. Lihatlah percobaan mengenai pengaruh gravitasi. Komputer bisa mensimulasikan aneka gaya gravitasi tak hanya di bumi, tapi di bulan hingga Mars. Ini sesuai dengan peran software edukasi, yakni ”alat bantu mengajar yang digunakan guru untuk menerangkan pelajaran,” kata Hary.

Di Sinarmas, komputer bahkan mengambil peran lebih besar. Maklum, konsepnya satu laptop satu murid. Hasilnya, tak ada lagi kelas khusus pelajaran komputer di sekolah itu. ”Komputer memang seharusnya bukan menjadi mata pelajaran yang terpisah, tetapi sebagai sesuatu yang menunjang kreativitas dan aktivitas dalam sekolah,” kata Jane Ross, guru spesialis teknologi digital di sekolah itu.

Sekolah yang mengacu pada program pendidikan International Baccalaureate ini membekali setiap murid dan guru dengan laptop Apple MacBook. Peranti itu disediakan oleh sekolah. ”Bisa dibawa pulang, tapi hanya untuk murid kelas 5 sekolah dasar ke atas,” kata Ross. ”Tujuannya agar murid bisa memperlihatkan hasil belajar di kelas kepada orang tua masing-masing.”

Agar tak disalahgunakan, setiap laptop dibekali program khusus. Misalnya, notebook ini akan ”bunuh diri” secara otomatis pada pukul 8 malam. ”Ini agar laptop tidak dipakai untuk hal-hal negatif,” kata Ross.

Untuk mencegah siswa berselancar ke situs khusus dewasa atau bermain game online yang tidak produktif, sekolah memblokir akses ke situs-situs tersebut. ”Termasuk Facebook dan You Tube,” ujarnya.

Masih ada pertahanan lainnya. Semua kegiatan siswa di laptop itu juga dapat dipantau. Guru dan orang tua murid tahu setiap situs yang dibuka oleh siswa. Ini berkat program Apple Remote Desktop dan Parental Controls, yang memungkinkan monitoring aktivitas siswa di atas laptop-nya dari jauh. ”Syaratnya cuma laptop itu harus terkoneksi ke jaringan,” kata Ross.

Untuk menghubungkan setiap MacBook, sekolah itu—terdiri atas 10 bangunan—diselimuti jaringan lokal nirkabel Mac OS X Server Leopard. ”Ini merupakan konsep pendidikan abad ke-21,” kata McBryde, yang sebelumnya sukses menerapkan hal serupa di sebuah sekolah di Beijing, Cina. ”Belajar bisa di mana saja, kapan saja, tidak perlu selalu di dalam kelas. Bisa di halaman sekolah atau bahkan di kantin sekolah.”

Belajar di sekolah pun, kata Kevin, siswa kelas empat di Sinarmas, tak membosankan lagi. Lihat saja. Tak jarang siswa masih bertahan di sekolah meski jam pelajaran telah berakhir.”

Pelajaran sejarah, yang membosankan bagi kebanyakan siswa, jadi jauh lebih menyenangkan dengan teknologi digital. Ross punya contoh. Suatu kali ia meminta murid kelas 5 membuat sebuah proyek tentang zaman kolonial Belanda. Setelah melalui riset kecil, mereka menemukan situs salah satu warga Belanda yang pernah hidup di Malang, Jawa Timur, saat masih kecil. Setelah mendapat kontak melalui surat elektronik, mereka akhirnya mendapat gambaran bagaimana kehidupan anak-anak Belanda kala itu.

”Jadi, belajar dengan menggunakan laptop tidak hanya melotot di depan layar monitor, tapi mereka juga diajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain di belahan dunia mana pun,” kata Ross. ”Cara ini membuat mereka lebih antusias dan mengerti.”

Ada yang tak kalah penting mengenai manfaat teknologi ini. Kini guru dan murid dapat melakukan interaksi secara langsung sesering yang mereka inginkan tanpa perlu bertemu. Bila siswa mendapat kesulitan ketika sedang menyelesaikan sebuah tugas, ia tak harus menghampiri gurunya. Semua kini cukup dengan melakukan chatting atau video call.

Di atas teknologi ini, main-main juga lebih mengasyikkan. Banyak proyek bisa dibuat. Misalnya proyek digital storytelling. Dalam tugas ini siswa bisa membuat sebuah cerita yang diperkaya dengan gambar hidup serta animasi tiga dimensi. Setelah itu, produk ini diisi suara dan ditampilkan dalam blog kelas melalui Internet, agar bisa diakses oleh siswa lainnya.

Teknologi digital bahkan tersedia untuk majalah dinding. Dengan laptop, iPhone, dan iPod, siswa merekam gambar, membuat blog, komik digital, atau film berdurasi pendek. Hasil karya mereka ditampilkan di smartboard, alat tampilan layar komputer yang punya kemampuan layar sentuh yang ada di beberapa lokasi di sekolah. ”Semacam majalah dinding,” kata Ross.

Firman Atmakusuma, Oktamandjaya W., Reh Atemalem S.

2 responses to “Sekolah tanpa Kertas

  1. Wah… keren nih infonya.. Moga-moga aja generasi terbaik Indonesia bisa muncul dari sekolah ini. Kalau difikirkan memang hanya orang-orang kaya saja yang bisa bersekolah disini. Tapi paling tidak, kekayaan yang mereka miliki dipergunakan untuk yang baik-baik. Hehehehe

  2. ndeh. mau kyk gtu. haha.😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s