#74!

Ya no.74 itu nomor yang saya dapat ketika diadakan pencabutan undian sesusai technical meeting di Kompleks Bandar Serai (Arena Purna MTQ) Anjungan Indragiri Hilir pada pukul 14.00 WIB hari Ahad kemarin. Ternyata dari empat orang guru dari sekolah tempat saya mengajar yang berencana ikut, hanya saya sendiri yang hadir mengikuti acara Technical Meeting ini -padanan kata ini dalam bahasa Indonesia apa ya?

Panitia menyampaikan persyaratan, tata-tertib dan kriteria penilaian dan juga sesi tanya-jawab untuk hel-hal terkait pelaksanaan kegiatan ini nantinya. Setelah sesi tanya jawab selesai, dilakukan pencabutan undian untuk menentukan no.urut peserta. Karena membludaknya peserta, ada 116 orang peserta yang terdaftar, sedangkan pelaksanaan kegiatan hanya dua hari maka disepakati bahwa waktu yang diberikan untuk tiap peserta tampil adalah 10 menit, dengan waktu sesingkat itu tidak akan mungkin menyelesaikan membaca cerpen sepanjang 7 halaman kuarto, arial 12, spasi satu. Maka setelah meminta izin dari bang Eddy Akhmad RM -penulis cerpen berjudul “Pil-Kadal” yang dilombakan ini- diputuskan untuk memtong cerita hanya menjadi 3 halaman lebih sedikit (sampai akhir paragraf dari halaman 3). “Sepuluh menit sudah cukup untuk menilai kualitas pembacaan cerpen seseorang,” kata Dewan Juri yakin. Dewan juri independent, tidak dapat diintervensi dan keputusannya adalah mutlak, tidak dapat diganggu-gugat.

Rencana ikut ambil bagian dalam acara yang bertajuk “Lomba Baca Cerpen” untuk guru se-Pekanbaru Riau ini bermula dari informasi salah seorang rekan guru yang mengajar Bahasa Indonesia yaitu Pak Dol Bakri. Acara ini bersempena dengan HUT PGRI tanggal 25 November 2008 tahun ini. Ya ini pertama kalinya yang (akan) saya ikuti! Tidak tahu apa dan bagaimana persiapan yang harus dilakukan guna menghadapi iven ini. Acara yang ditaja oleh Dewan Kesenian Riau (DKR) ini akan diselenggarakan selama dua hari, Senin dan Selasa (24-25/11).

Saat di technical meeting ada peserta yang meminta diberikan contoh bagaimana membaca sebuah cerpen, apakah sama dengan mendongeng atau bagaimana? Diplomatis Pak Abel Tasman dan Bang OlyRinson -yang rencananya akan menjadi Juri acara ini bersama Pak Syafrudin Saleh Sei Gergaji- menjawab bahwa tidak ada cara yang baku, semua orang punya cara dan karakter sendiri dalam pembacaan cerpen.
“Nanti kalau saya bacakan, bapak dan ibu akan mengira seperti itulah cara membaca cerpen yang benar, dan semuanya meniru saya, saya tidak mau seperti itu,” ujarnya Pak Abel berkilah. “Nantilah kalau sudah tidak ada lomba, saya kasih contoh,” sambungnya lagi.
Sementara itu bang Oly juga enggan memberikan contoh, dia hanya bercerita memberi inspirasi kepada para peserta bagaimana dia berusaha menarik perhatian baik audiens maupun para juri di suatu iven tingkat Nasional dimana acara itu dihadiri oleh sastrawan kawakan maupun awam dan para penikmat sastra. Saat namanya dipanggil dia bersiap-siap membuka bajunya dan mengeluarkan HP sambil berkata kepada para hadirin, “Sebelumnya saya mohon maaf pada para hadirin semua yang terhormat. Saya ini hanya oang kampung dan mamak (ibu) saya sangat ingin mendengarkan saya membaca puisi, izinkanlah saya menelepon beliau untuk memperdengarkan puisi yang saya baca ini.” lalu dia ambil HPnya seraya beraksi menelepon sebentar dan diletakkannya HPnya itu di lantai. Dia pun membaca puisi. Para hadirin terdiam dan mendengarkan serta memperhatikan dia membaca sampai selesai.
Setelah selesai dia mendapat tepuktangan yang meriah dan simpati dari berbagai pihak. Dia berhasil menyedot perhatian semua orang! “Itu cara yang saya lakukan, mungkin cukup ekstrim, tapi setidaknya itu berhasil pada saya. Semoga anda bisa terinspirasi dari pengalaman nyata ini,” ujarnya lagi.

Itu versi dunia nyata, di dunia maya -seperti biasa saya coba bertanya ke Om Gugel, ada beberapa petunjuk yang diberikannya tetapi memang sangat terbatas sekali. Saya juga mencoba mencari referensi ke YouTube, dengan harapan ada secercah petunjuk. Alhasil, dapatlah beberapa video yang cukup menarik untuk disimak dan berhubungan dengan pembacaan cerpen, hanya saja selain durasi yang pendek kualitas suara dan kesesuaian materi masih jauh dari yang saya cari. Ada video Joni Ariadinata sedang membacakan cerpen yang ditulisnya sendiri. Cukup menarik! Tinggal mencobanya saja.

Oya, untuk menarik minat dan apresiasi peserta terhadap kegiatan ini panitia menyiapkan hadiah utama berupa masing-masing 1 unit sepeda motor, kulkas dan TV untuk juara I, II dan III, sedangkan untuk 10 pemenang terbaik lainnya disediakan hadiah hiburan. Saya tidak berharap banyak, sekedar ikut serta berpartisipasi untuk menambah pengalaman dan wawasan. Kalau terlalu berharap, ternyata tidak dapat hadiah jadinya kecewa. Lebih baik tak berharap eh taunya dapat sepeda motor😉 hehe –bukannya itu sama aja dengan berharap.

Sebenarnya tulisan ini saya buat dengan maksud mendapatkan kritik, saran dan masukan bagi saya, mana tahu ada diantara rekan pembaca yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu yang luas tentang baca cerpen ini. Tapi apa daya lha wong tampilnya besok ‘ee (Selasa, 25 Nov 2008). Alah bia se lah, hitung-hitung tambah lagi tulisan ambo. Artinya ambo sudah belajar menulis hari ini.

One response to “#74!

  1. Semangat bro!! 加油。。。

    tapi maaf gak punya tips-nya😦 hmmmm, tapi kayaknya asal jangan kayak zulfahren baca quran aja😀 (orang lain kok dibawa2, hehe, daripada afif yang dibawa2:mrgreen: )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s