SOP di Kelas

Cara Baru Melatih Disiplin Pada Anak?
oleh Nina Feyruzi

*SOP:Standard Operational Procedure.

Selama kurang lebih 6 tahun lamanya saya mengajar di sebuah sekolah dasar nasional plus di daerah Bogor, Jawa Barat. Selama itu pula setiap tahunnya saya selalu diberi `mandat’ menangani anak-anak special needs atau anak2 berkebutuhan khusus di sekolah itu. Sekolah saya itu termasuk salah satu sekolah yang menerapkan konsep sekolah inklusi atau pendidikan inklusi, yaitu sekolah yang memperbolehkan siswa-siswa berkebutuhan khusus seperti autisme, ADHD, ADD, hiperaktif, retardasi dan beberapa special needs lainnya. Mereka disatukan di dalam kelas yang berisi anak2 `normal’ lainnya. Biasanya, kelas yang jumlah siswanya 24-26 orang ini akan berisi sekitar 3-5 orang siswa berkebutuhan khusus.

Tentu saja, mengurusi siswa dengan berbagai sifat, karakter dan tingkah laku yang berbeda-beda bukanlah hal yang mudah, apalagi masih ada 3-5 anak berkebutuhan khusus tadi. Saya memang dibantu oleh guru khusus yang menangani anak2 tadi dan satu orang partner di dalam kelas, tetapi tetap saja, menyatukan anak2 normal dengan anak2 special tadi bukan pekerjaan seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi bukan pula suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Perlu waktu kurang lebih tiga tahun lamanya sebelum saya akhirnya menemukan formula khusus agar anak2 di kelas mau disiplin dengan ikhlas. Intinya sih tetap kreatif dan jeli terhadap berbagai masalah yang ada.

Disiplin harus dimulai dari guru

Hal pertama yang saya terapkan adalah disiplin. Menerapkan disiplin ini gampang-gampang susah. Sebagai guru dan manager di kelas, kita harus pandai menggunakan ilmu tarik ulur. Artinya, sebagai manager, kita harus menerapkan disiplin dan etos kerja, tetapi karena kita juga guru, apalagi guru bagi anak2 yang heterogen, maka kita harus bisa menjadi sahabat, menjadi teman anak-anak, sekaligus mereka menghormati dan menghargai kita sebagai gurunya. Bagaimana caranya? Ya itu tadi, system tarik ulur. Selain itu tentu saja, karena guru adalah role model atau contoh nyata bagi anak-anak, penting untuk diingat dan dilaksanakan, guru pun harus disiplin lebih dulu, sebelum meminta anak2nya untuk berbuat disiplin. Misalnya saja, kalau kita meminta anak2 untuk datang tepat waktu, maka sebaiknyalah kita datang tepat waktu pula setiap harinya. Kalau kita meminta anak2 untuk tertib dan tidak mengobrol di dalam kelas, maka janganlah guru meninggalkan kelas dan mengobrol di ruang guru, sementara anak2 ditinggal tanpa pengawasan. Selain memberi contoh buruk bagi anak2, meninggalkan kelas tanpa pengawasan berarti membiarkan sesuatu terjadi. Bisa saja ketika guru asyik mengobrol, ada saja anak berantem atau terjatuh.

Sering sekali di setiap pelatihan dimana saya menghadiri atau saya menjadi pembicaranya, guru mengeluh kepada saya tentang sulitnya menerapkan disiplin ini ke anak didik mereka. Anak yang sulit diatur dan sering ngobrol ketika mengerjakan sesuatu bahkan bertengkar fisik dengan sesame teman di kelas. Kemudian saya tanyakan apakah sang guru juga mengobrol di ruang guru dan meninggalkan siswanya, sambil tersipu malu mereka mengiyakan pertanyaan saya tadi.

Contoh lain lagi adalah di SMP dan SMA, guru2 melarang siswanya untuk tidak merokok. Tetapi bagaimana mereka tidak melakukannya kalau ternyata para guru sendirilah yang menyarankan siswa2nya untuk merokok dengan memberi contoh nyata merokok di hadapan para siswa. Apalagi, banyak guru pria yang mengajar di sekolah dasar dan mereka merokok di depan kelas rendah. Itu jelas bukan contoh yang baik bagi anak2. Saya tidak melarang para guru untuk berhenti merokok, tetapi akan lebih baik kalau mereka menahan diri mereka hingga sekolah usai, atau merokoklah di luar area sekolah.

Belief, Kelas Impian , Budaya Kelas

Setelah memberi contoh, teknik pertama yang saya gunakan SOP, Standard Operational Procedure atau Prosedur Pengoperasionalan suatu system. Kalau dilihat dari namanya, tentulah ini suatu hal yang sulit dilakukan, apalagi istilahnya begitu asing. Pastilah tidak cocok untuk anak2. Bukan, ini bukan suatu momok menakutkan dan bahkan bisa diterapkan bahkan pada siswa taman kanak-kanak. SOP adalah sejenis peraturan yang diterapkan ketika kita pertama kali melakukan pengoperasian suatu system, atau barang atau pekerjaan. Sejenis rangkaian aktivitas yang harus dikerjakan sebelum kita memulai suatu system.

Seperti di perusahaan2 terkemuka, maka saya menganggap kelas adalah suatu system, system yang harus dijalankan secara professional. Agar system ini berjalan dengan baik, maka diperlukan SOP tadi, agar apa yang saya dan anak2 inginkan dapat terlaksana. Oleh karena itu, saya pun menerapkan SOP ini pertama kali mereka masuk ke kelas saya, dalam arti yang sesungguhnya, yaitu di awal tahun ajaran baru. Saya menyebutnya “Belief” atau di sekolah2 lain disebut sebagai “Rule” atau peraturan. Tetapi saya tidak mau menggunakan kata peraturan untuk kelas saya, karena itu berarti saya memaksa anak2 menuruti apa kata dan perintah saya, padahal saya mau hal tersebut datang dari anak2, anak2 sadar sepenuhnya bahwa kalau mereka tidak menjalankan ini, mereka sendiri yang akan rugi. Saya ingin anak2 belajar tentang pentingnya kesadaran diri akan tanggung jawab tanpa selalu saya ingatkan apalagi paksaan dari saya sehingga anak2 senang berada di kelas saya, nyaman dan betah.

Untuk itu, saya ganti kata `Rule” dengan “Belief” atau “Aturan/Peraturan” menjadi “Kepercayaan” yang di dalamnya mengandung arti saling percaya dan menjaga. Atau bisa saja menjadi `Kelas Impian’ atau “Kelas Idaman” atau apa pun istilahnya tergantung pada kesepakatan antara kita dan anak2. Di beberapa daerah tempat saya memberi pelatihan tentang “Belief” ini mereka menggunakan istilah “Budaya Kelas”.

Perlu juga disampaikan kepada anak2 alasan mengapa kita menggunakan kata belief ini, sehingga anak2 bisa memahami dan lebih mudah bagi mereka mempraktekkannya. Orang percaya karena telah mengenal. Orang mengenal karena berada dalam satu system yang sama. System dibangun atas dasar percaya dan disiplin. Disinilah disipin itu berperan. Tentu saja cara kita memberi tahukan anak juga amat penting, Gunakanlah bahasa yang dapat dimengerti anak, hindarilah memberi mereka istilah2 yang tidak mereka kenal. Hal ini akan berakibat fatal. dengan apa yang mereka ketahui saja. Berikan contoh2 nyata atau gambar di papan tulis bila perlu. Ini sangat membantu apabila kita memiliki siswa2 yang sangat visual sehingga segala sesuatu harus disertai dengan gambar.

Ketika anak2 sudah mulai mengerti, maka akan saya bagikan sebuah kertas karton manila ukuran besar (biasanya sih 100X60cm, atau satu plano) dan menuliskan judulnya besar2, misalnya saja “3F Classroom Belief”; atau `My Home Sweet Home Belief’ ; atau “Kelas Impianku” atau “Kelasku Rumah Keduaku” dan lain sebagainya tergantung kesepakatan antara si guru dan murid2nya.

Kemudian, saya pun menuliskan poin pertama yang juga harapan saya tentang kelas itu, misalnya saja saya akan menulis “Kelas yang bersih, nyaman dan rapi”. Sambil menuliskan poin ini, saya pun mulai memasukkan doktrin2 saya tentang kelas yang nyaman, bersih dan rapi ini. Saya akan bertanya kepada mereka bagaimana dan seperti apa tanggung jawab setiap siswa agar kelas menjadi bersih, nyaman dan rapi. Sampai di sini, kita dan anak2 sudah melakukan komunikasi dua arah. Di sini terjadi proses perkenalan antara si guru dan siswa2nya, siswa dengan teman2nya.

Kemudian, saya meminta masing2 anak untu menuliskan apa2 saja yang harus dilakukan agar kelas menjadi kelas impian sesuai dengan keinginan mereka. Misalnya saja seperti, `Berbaris rapi’, `memiliki teman banyak’ dan lain sebagainya. Begitu seterusnya sampai semua anak selesai menuliskan kalimat-kalimat impian mereka tentang kelas yang mereka senangi.

Setelah semua anak menulis, mereka boleh memberi hiasan, membacakannya agar tidak ada lagi hal yang tertinggal sebelum “belief” ini dipasang di dinding kelas. Saya akan minta anak2 berdiskusi agar mereka bisa menambah atau menguranginya sendiri. Ini merupakan proses pembelajaran itu sendiri. Apabila mereka sudah merasa mantap, maka “Belief” bisa dipajang di dinding kelas.

Saya akan terus menerus mengingatkan anak2 untuk membaca “belief” ini setiap hari. Ketika mereka mulai ribut di kelas, maka saya akan meminta anak2 untuk membaca keras2 apa yang telah mereka tulis dan tertulis di “Belief”. Selain itu saya juga meminta anak2 untuk saling mengingatkan apabila ada teman mereka yang melanggar janji mereka sendiri. Biasanya anak2 di kelas rendah akan banyak mengadu dan melaporkan pelanggaran2 yang terjadi ketika saya tidak ada di kelas. TIdak apa2, tugas kita adalah menetralisir keadaan dengan kata2 yang bijak. Kita juga harus pandai-pandai menyelesaikan masalah yang timbul, gunakan bahasa yang positif agar anak dapat mengambil manfaat dari tiap permasalahan yang muncul. Selesaikan masalah dengan tuntas dan jangan menghakimi satu anak.

Gunakanlah kata dan kalimat positif

Setiap kali saya melakukan perjalanan ke berbagai daerah dan sekolah-sekolah untuk melihat perkembangan sekolah tersebut, sering saya melihat belum saya menerapkan ini di kelas dan meminta anak2 menuliskan kelas impian peraturan2 tertulis di kelas. Isinya macam2 seperti `Jangan buang sampah sembarangan’, “Tidak boleh terlambat’, “Jangan Menyontek’, dan berbagai kalimat2 yang selalu dimulai dengan kata2 jangan, tidak, stop atau kata negative sejenis.

Sebaiknya, kata2 negatif ini mulai dihilangkan. Kata negative bisa berakibat negative pula bagi anak2 antara lain menyebabkan hilangnya kreativitas mereka. Menurut saya, anak bukannya mematuhi peraturan malah membuat mereka mencoba melanggar peraturan, terlebih lagi, peraturan ini biasanya dibuat sepihak, yaitu si guru yang membuat. Anak-anak sih pasti cuma mengiyakan saja apa kata guru mereka, namun apakah mereka berusaha melaksanakan apalagi mentaatinya?

Dari pengamatan dan pengalaman saya berbagi ilmu di berbagai daerah dengan guru2 biasanya peraturan hanya tinggal peraturan. Guru terus saja berteriak-teriak setiap kali murid-muridnya bermain di kelas. Bahkan, yang paling menyeramkan, guru masih bertindak kasar dengan melempar penghapus ke arah muridnya apabila ia melanggar peraturan atau rebut sendiri.Wah, kalau ada istilah KDRT untuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga, jangan sampai muncul istilah KDRK, atau Kekerasan Dalam Ruang Kelas. Jawaban2 polos dari guru bahwa mereka akan melakukan KDRK ini terus terang menyesakkan dada saya. Anak didik adalah titipan orang tua mereka kepada guru. Bagaimana mungkin memperlakukan titipan itu dengan semena-mena? Kita, sebagai guru, bertanggung jawab dunia dan akherat terhadap apa yang kita lakukan di kelas. Kalau sudah begitu, para guru biasanya tersipu malu dan meminta saran dengan berbagai isu yang mereka hadapi di kelas.

Mempositifkan kata-kata yang negative ini susah susah gampang. Di beberapa daerah, saking mereka terbiasa dengan berbagai peraturan selama bertahun-tahun yang berisi “Tidak” , “Jangan”, “Dilarang” dan “Stop” ini, para guru kesulitan mencari kata-kata pengganti yang positif. Saya perlu waktu lama dari yang saya perkirakan untuk memberi clue kepada mereka tentang kalimat-kalimat positif ini.

Mudah sebetulnya, hanya saja, kita perlu berlatih dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, kalimat “Jangan Ribut”, kita bisa menggantinya dengan “Harap Tenang”, atau “Bekerja dengan tenang”. Untuk kalimat “Jangan Buang Sampah Sembarangan” bisa diganti dengan “Buanglah sampah pada tempatnya”. Untuk mengganti kata “Jangan Menyontek” gunakanlah “Bekerja dengan Jujur”. Untuk kalimat “Dilarang Menginjak Rumput Taman Sekolah” bisa dipakai kalimat “Sayangilah Aku. Aku hidup dan akan membuat taman ini indah”.

Kalimat2 di atas adalah sebagian contoh saja. Tentu ada berbagai peraturan yang ditetapkan di tiap sekolah, dan masing-masing sekolah berbeda, sesuai dengan budaya mereka masing-masing. Sekali lagi, intinya adalah guru harus kreatif mencari dan menciptakan suasana positif. Salah satunya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang variatif dan positif.

SOP bukan Cuma milik guru kelas

Saya juga sering menjumpai guru2 bidang studi yang berkomentar bahwa mereka bukanlah guru kelas. SOP dan penerapan disiplin adalah tugas dan tanggung jawab guru kelas. Bahkan sering mereka ngotot kepada saya bahwa system di SMP dan SMA berbeda dengan SD. Guru SD lah yang bertanggung jawab mendidik siswanya semasa SD agar menjadi anak yang disiplin. Padahal, pembelajaran itu kan berlangsung terus menerus dan bukan tanggung jawab perorangan. Pendidikan juga tanggung jawab bersama, apakah guru tersebut mengajar si anak secara langsung atau tidak. Kenyataannya guru bidang studi pun banyak yang mengeluh kepada saya tentang sulitnya mendidik siswa mereka untuk paling tidak mendengar nasehat mereka sebagai guru bidang studi. Banyak pula yang mengeluh kewalahan karena siswa2 tidak disiplin di dalam laboratorium atau kegiatan lainnya sehingga berakibat fatal.

Kalau dilihat dari cerita mereka, kelihatan sekali baik guru kelas atau guru bidang studi memiliki masalah yang sama, yaitu disiplin. Masalahnya adalah apakah mereka mau atau tidak menjalani SOP ini di kelas.

SOP, atau Belief, atau Budaya Kelas, ternyata juga bisa dilaksanakan di kelas2 bidang studi. Penerapannya sama: dilakukan di awal tahun ajaran baru, murid terus menerus diingatkan akan `janji’ mereka untuk melaksanakan apa yang sudah mereka tulis selama pelajaran berlangsung. Bisa saja, guru bidang studi berkreasi dengan menamakan peraturan kelas mereka ini dengan tema yang ada di pelajaran mereka, misalnya saja salah satu guru matematika sebuah daerah di Sumatera menamakan SOP kelasnya dengan sebutan “Kelas Operasi Matematika”. Di dalamnya tercantum kalimat2 belief seperti “Pangkat Kebersihan”, “Kali Ketelitian”, “Tambah Kesopanan dan Keramahan”, “Kurang Keributan dalam Kelas”.

Hal-hal kreatif di atas akan memacu siswa untuk semangat belajar. Memang, perlu waktu untuk memberi anak2 pengertian dalam pelaksanaannya. Biasanya saya memerlukan waktu dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menerapkan ini di dalam kelas. Artinya, selama tiga bulan itu adalah waktu saya dan anak2 bersosialisasi, saling mengenal, terus menerus mengingatkan mereka akan janji mereka dalam belief. Saya juga menunjukkan kepada mereka bahwa saya konsisten menjalankan apa yang sudah saya tulis di dalam SOP.

Disiplin Untuk Semua, disiplin dimana saja

Kasus-kasus pelecehan oleh murid kepada guru bidang studi juga sering terjadi karena siswa menganggap guru bidang studi bukanlah guru kelas yang harus mereka hormati. Sebetulnya hal ini tidak perlu terjadi andai saja guru bidang studi mau peduli dengan anak didiknya, mau mendengar mereka, dan yang penting mau menerapkan sikap disiplin yang sama seperti ketika guru kelas menerapkan disiplin, sehingga tidak ada lagi komentar sepihak tentang guru bidang studi yang `dikerjai’ oleh siswa.

Saya sudah menjalani ini ketika saya mengajar di kelas bahasa Inggris baik di SMP dan SMA, bahkan di kelas super. Kelas super adalah kelas yang didesain bagi anak2 yang memiliki IQ di atas 140. Sehari-hari mereka hanya belajar pelajaran seperti fisika, kimia, biologi dan matematika. Kalau pun mereka belajar bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, itu untuk membantu mereka menjawab pertanyaan2 dalam bahasa inggris. Agar saya tidak menjadi bulan2an mereka, sejak semula sudah saya terapkan SOP ini. Anak2 membuat sendiri dan menempel SOP di dinding kelas, saya hanya mengawasi. Setiap kali mereka mulai mengarah pada melanggar saya akan mengingatkan mereka. Pendekatannya saja yang berbeda dengan anak2 sekolah dasar. Saya menggunakan system tarik ulur tadi, menjadi teman di kala mereka berkeluh kesah, namun tetap tegas dalam belajar di kelas, sehingga mereka menghargai dan menghormati saya.

Di beberapa pelatihan guru, saya berbagi kepada guru-guru bidang studi. Pada mulanya mereka menolak dengan alas an mereka bukan guru kelas. Namun, setelah saya jelaskan bahwa mereka akan mendapat manfaat ini mereka kemudian mencoba membuatnya. Hasilnya, saya mendapat banyak surat dan email yang isinya kegembiraan guru2 tersebut karena kelas mereka sudah menjadi kelas yang `normal’.

Semoga Bermanfaat dan selamat mencoba!

7 responses to “SOP di Kelas

  1. Salam,
    cuma ngasih saran aja, untuk sebuah blog sepertinya tulisan diatas terlalu panjang. Lebih baik dibagi menjadi beberapa tulisan, itu lebih enak dibaca. :)

    BTW, semoga bisa menjadi guru yang bukan hanya pintar, tapi juga kreatif, sehingga dapat melahirkan murid-murid yang cerdas dan kreatif juga.

    • betul bang, saran yang tepat. Ini hanya bermaksud dokumentasi pribadi karena saya pikir perlu bagi saya, tulusan ini disalin sesuai yang aslinya, tanpa diedit.
      Amin, saat ini saya setakat “pengajar”, ingin menjadi “real guru” semoga bisa berproses untuk itu, doakan saye ye bang..

  2. wah, mantep nih bi…
    jadi berminat menerapkan
    tahun ajaran baru besok nih..
    hehe

    thanks 4 sharing bi.. ;)
    oia, jgn plg mlam2 lg ya..
    kcian kk n aci menunggu di rumah..
    0k..

  3. wah….. menarik banget.. selasa depan mo dijadiin tambahan materi diskusi… thnk a lot

  4. sangat bermanfaat tambahan informasi baru buat saya !

  5. salam SOP, salam SOP, salam SOP

  6. Salam,
    Tulisannya sangat menginspirasi untuk kami terapkan di sekolah kami.
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s